Dalam dinamika rumah tangga, ekspresi kasih sayang antar suami istri sering kali menjadi perdebatan. Ada yang menganggap tabu, tetapi ada pula yang menganggapnya perlu. Namun, benarkah menunjukkan romantisme orang tua di depan anak itu bermanfaat? Ataukah justru bisa berdampak buruk jika tidak dibatasi dengan rasa malu dan adab?
Mengapa Romantisme Orang Tua Penting bagi Psikologi Anak?
Banyak pakar parenting sepakat bahwa melihat orang tua yang saling menyayangi memberikan fondasi emosional yang kuat bagi anak. Romantisme orang tua yang ditampilkan secara wajar adalah vitamin bagi kesehatan mental mereka, di antaranya:
Menghilangkan kecemasan (Anxiety). Anak-anak sangat peka terhadap ketegangan. Sebaliknya, melihat ayah memuji masakan ibu atau ibu menyambut ayah dengan senyuman hangat memberikan sinyal bahwa dunia mereka aman.
Role model hubungan masa depan. Anak tidak belajar tentang cinta dari buku, tapi dari apa yang mereka lihat di rumah. Cara Anda berkomunikasi secara romantis akan menjadi standar mereka dalam mencari pasangan kelak.
Mengajarkan kelembutan. Melalui romantisme orang tua, anak belajar bahwa kekuatan tidak selalu tentang dominasi, melainkan tentang kelembutan dan perhatian.
Batasan Kemesraan: Mengedepankan Adab dan Rasa Malu
Meskipun menunjukkan kasih sayang itu penting, kita harus ingat bahwa rumah bukan sekadar ruang privat, tapi juga madrasah (sekolah) pertama bagi anak. Di sinilah prinsip adab lebih tinggi daripada ilmu harus diterapkan. Sebagai orang tua, khususnya dalam nilai-nilai ketimuran dan Islam, memelihara rasa malu (Haya') adalah bagian dari iman. Romantisme Orang Tua tidak boleh melanggar batas privasi yang seharusnya hanya diketahui oleh suami dan istri di dalam kamar.
Apa yang Tergolong Kemesraan Wajar?
Sentuhan non seksual, seperti berpegangan tangan saat berjalan atau mengelus kepala pasangan saat sedang mengobrol.
Pujian verbal, yakni dengan mengatakan "Terima kasih, Sayang" atau "Ibu cantik sekali hari ini" di depan anak-anak.
Membantu pasangan memakai jaket atau berbagi makanan. Ini adalah bentuk romantisme orang tua yang sangat mendidik.
Apa yang Harus Dihindari?
Ciuman bibir yang dalam atau terlalu lama (long passionate kiss).
Gaya bercanda yang mengarah pada kontak fisik sensual.
Duduk di pangkuan dengan cara yang tidak pantas di ruang tamu.
Menyeimbangkan Kasih Sayang dengan Nilai Agama
Romantisme orang tua memang perlu diperlihatkan, tapi tetap harus dalam koridor kewajaran. Sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa adab harus diutamakan di atas segalanya. Ilmu tentang parenting mungkin menyarankan kita untuk ekspresif, tetapi agama mengajarkan kita untuk memelihara rasa malu. Pamer kemesraan di depan anak itu perlu sebagai bukti keharmonisan, tetapi jangan sampai menghilangkan wibawa orang tua karena hilangnya rasa malu tersebut.
Dampak Jika Kemesraan Melebihi Batas
Jika orang tua bermesraan tanpa filter, ada beberapa risiko yang mungkin terjadi pada anak, yakni:
Pubertas dini secara psikologis. Anak terpapar pada stimulasi dewasa sebelum waktunya.
Rasa tidak nyaman (awkward). Anak mungkin merasa risih atau merasa terinvasi privasinya saat melihat orang tua terlalu intim.
Kehilangan rasa hormat. Batas antara orang tua dan teman bisa kabur jika adab tidak dijaga.
Tips Menjaga Keharmonisan Tanpa Melanggar Adab
Agar hubungan keharmonisan orang tua tetap memberikan dampak positif tanpa menabrak nilai kesantunan, Anda bisa melakukan hal berikut:
Gunakan bahasa kasih verbal. Perbanyak kata-kata apresiasi. Ini adalah bentuk kemesraan yang paling aman dan edukatif.
Sepakati kode etik dengan pasangan. Diskusikan dengan pasangan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di depan anak.
Jelaskan pada anak, jika anak bertanya mengapa ayah memeluk ibu? Jelaskan bahwa itu adalah cara orang dewasa menunjukkan rasa syukur dan sayang.
Prioritaskan waktu berdua. Tetap miliki waktu date night atau waktu privat di kamar untuk mengekspresikan kemesraan yang lebih dalam tanpa terlihat oleh anak.
Kesimpulannya, menjaga keharmonisan suami istri memang penting, tetapi implementasinya harus selaras dengan nilai-nilai yang dianut. Jadi menurut saya, pamer kemesraan di depan anak itu perlu, tapi masih sebatas wajar. Apalagi saya yang notabenenya beragama muslim, lebih mengutamakan adab daripada ilmu dan juga harus memelihara rasa malu. Dalam perspektif ini, kemesraan adalah alat untuk mengajarkan anak tentang keharmonisan keluarga, tetapi adab tetap menjadi panglimanya. Rasa malu (haya') bukan berarti kaku, melainkan menjaga agar perilaku kita tetap terhormat dan sesuai dengan norma agama.
Menunjukkan romantisme orang tua adalah bumbu dalam mendidik anak tentang cinta. Selama dilakukan dengan frekuensi yang tepat dan jenis sentuhan yang sopan, hal ini akan memperkuat fondasi psikologis anak. Ingatlah bahwa anak adalah peniru yang ulung; tunjukkanlah cinta yang penuh dengan kesantunan. Jadi, tunjukkanlah kasih sayang kepada pasangan Anda dengan pelukan, cium kening, cium pipi, dan cium tangan. Suami istri juga bisa saling membantu dalam pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci dan menjemur pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel, dan lainnya. Ini sebagai bentuk perhatian kepada pasangan dan juga memberikan contoh kepada anak bahwa dalam sebuah hubungan keluarga, kita harus saling membantu. Hal ini akan berdampak kepada masa depan anak. Dimulai dari rumah terlebih dulu, mereka akan terbiasa saling bekerja sama atau bergotong royong. Saya sudah membuktikannya. Anak-anak sangat antusias membantu orang tua bahkan tanpa diminta mereka akan sigap menawarkan bantuan.
Referensi
Gottman, J. M., & Silver, N. (2015). The Seven Principles for Making Marriage Work. (Membahas pentingnya afeksi dalam keluarga).
Psychology Today. The Importance of Modeling Healthy Affection for Children.
Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin. (Referensi mengenai adab, rasa malu, dan pendidikan keluarga dalam Islam).
Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA). Pola Asuh Anak dalam Perspektif Moral dan Agama.
Chapman, G. (2010). The 5 Love Languages. Northfield Publishing. (Mengenai pentingnya ekspresi kasih sayang).
Al-Mubarakfuri, S. Ar-Rahiq Al-Makhtum. (Kisah teladan rumah tangga Rasulullah SAW yang penuh kasih namun tetap terjaga adabnya).
Journal of Family Psychology. Parental Affection and Child Emotional Development.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bolehkah Orang Tua Bermesraan di Depan Anak? Intip Batasannya Yuk!", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/irmadewimeilinda4172/69aa9a80c925c452357cf042/bolehkah-orang-tua-bermesraan-di-depan-anak-intip-batasannya-yuk?page=2&page_images=1
Kreator: Irma DewiMeilinda





💬 Diskusi Pembaca
0 Tanggapan Diskusi
Silakan masuk untuk mulai berdiskusi gaes.
Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!