Saat ini, ketenangan menjadi sesuatu yang sangat dicari-cari. Meski teknologi sudah mempermudah berbagai aktivitas, fasilitas semakin canggih dan perkembangan terus melahirkan inovasi, manusia tetap selalu butuh untuk mengisi ruang “sunyi” dalam batinnya yang seringkali terasa “kosong” dan hampa walau sedang berada di tenga keramaian. Berbagai cara dicoba untuk mengisi “ruang” itu. Ada yang berupaya dengan pergii berlibur keliling kota, travel abord, membeli barang-barang yang sudah diimpikan dan berbagai cara lain. Apakah dari sini rasa tenang itu bisa dijemput? Atau justru, semakin dunia menunjukkan gemerlapnya, batin makin diburu dengan keinginan yang tak ada ujungnya? Pada era digital ini, manusia tidak hanya dibuat lelah secara fisik; namun juga secara mental. Notifikasi tanpa henti, arus deras informasi dan budaya membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain via sosial-media, benar-benar membuat manusia diambang kegusaran. Dalam hal ini, ketenangan menjadi barang mahal yang terus diburu. Sejatinya, Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penuntun kehidupan manusia; sudah memberikan solusi untuk memenuhi kebutuhan batin dan hati kita. Memberikan clue bagaimana cara menjemputnya dan mengarahkan agar kita tidak tertipu pada kesenangan-kesenangan yang “terlihat” menenangkan tapi hanyalah sebuah ilusi sementara. Allah berfirman dalam QS. Al-Fath: 4 هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Abu Ja’far Ibn Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an menerangkan makna السكينة adalah ayat-ayat atau perkataan yang menenangkan jiwa. Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munr fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj menuturkan penjelasan dari ayat ini: وقد استدلّ البخاري وغيره من الأئمّة بالآية على زيادة الإيمان وتفاضله في القلوب. ويصح تأويل زيادة الإيمان بأنه الإيمان بالشرائع بعد إيمانهم بالله, قال ابن عباس : إن أول ما أتاهم به النبي صلى الله عليه وسلم التوحيد, فلمآ آمنوا بالله وحده أنزل الصلاة ثم الزكاة ثم الجهاد ثم الحج Imam Bukhari dan imam-imam lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil terkait bertambahnya keimanan dan perbedaan tingkatan keimanan dalam hati. Dimaknai juga bahwa bertambahnya iman disini adalah mengimani syari’at setelah mengimani Allah Swt. Ibnu Abbas berkata: Hal pertama yang yang dibawa Nabi adalah Tauhid. Ketika sudah beriman, selanjutnya turunlah perintah shalat, zakat dan Haji. Melalui ayat ini dan penjelasannya, pelajaran yang bisa diambil bahwa ketenangan akan kita jemput jika terus menyambungkan diri kepada Allah melalui ibadah kepada-Nya. Juga sepatutnya, ujian dan cobaan yang kita lalui, membawa untuk kembali mendekat kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم keimanan yang meningkat dari keimanan yang sebelumnya sudah bersemayam di hati. Sehingga kita turut meyakini dan mengimani bahwa melalui ibadah-ibadah yang Allah wajibkan, itu juga merupakan cara terbaik dalam me-maintenance ketenangan batin dalam diri kita. Jangan sampai memprioritaskan hal lain di luar kewajiban kita pada-Nya. Selanjutnya, kita juga bisa mempelajari jika untuk mencapai tingkatan iman yang lebih baik dibutuhkan proses yang bertahap. Semula Nabi Muhammad Saw mengisi hati para sahabat dengan Tauhid, lalu setelah iman bertambah kuat, turunlah perintah shalat, puasa, zakat dan haji. Maka dengan ini, sakinah bukan berarti kita terbebas dari masalah. Bukan juga berarti hidup kita akan berjalan dengan segala kesantaian tanpa ada tekanan. Tapi, Sakinah adalah ketika kita diterpa masalah namun kita punya jiwa yang tangguh dan tak mudah kalah. Bagaimana Contohnya? Terkadang, scrolling kita jadikan sarana untuk membebaskan diri dari rasa penat setelah seharian bekerja dan berkegiatan. Sesekali kita terhibur dengan konten yang lucu, namun setelah scrollinh, apakah masalahnya usai? dapatkah kita ketenangan itu? justru yang muncul adalah berbagai distraksi dari konten yang kita konsumsi. Namun, berbeda dengan ketika kita membaca Al-Qur’an. Ia boleh jadi hanya mengambil 30 menit waktu yang kita punya, tapi ketenangannya bisa lestari sepanjang hari. Menjernihkan hati dan menyehatkan proses kita dalam mencerna kehidupan. Dengan ini, mulailah merawat hati dan batin kita dengan melaksanakan apa-apa yang Allah wajibkan dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang. Sembari membiasakan diri melakukan apa-apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw. Melalui hal-hal sederhana yang paling mungkin dan paling mudah kita lakukan; InsyaAllah hidup kita akan diliputi dengan ketenangan. Wallahu A’lam
Kini #belajaralquran dan #belajartafsir lebih mudah dengan www.quran.islami.co, baca selengkapnya di: https://islami.co/cara-mudah-menenangkan-diri-dalam-al-quran/
Cara Mudah Menenangkan Diri dalam Al-Quran


Ditulis oleh Hermawati
Man Jadda Wajada



💬 Diskusi Pembaca
0 Tanggapan Diskusi
Silakan masuk untuk mulai berdiskusi gaes.
Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!